prabowosubianto.com

Prabowo Subianto

Pilihan dan Perjuangan Kita Sulit

Pilihan dan Perjuangan Kita Sulit | Prabowo Subianto

Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku Strategi Transformasi Bangsa: Menuju Indonesia Emas 2045]

Bagi saya, masuk ke politik ini adalah pengorbanan. Pengorbanan tenaga, waktu, dan perasaan. Tetapi jika tidak masuk ke politik, tidak mungkin saya bisa memperbaiki kehidupan rakyat banyak.

Ya, saya percaya tidak mungkin kita bisa wujudkan perbaikan kehidupan rakyat secara besar-besaran hanya dengan mengomel dan mengkritik. Tidak mungkin kita bisa memperbaiki bangsa hanya dengan menjadi pengamat. Tidak mungkin hanya dengan menghardik kita bisa melakukan perbaikan.

Sebagian dari saudara yang membaca buku ini mungkin sudah masuk ke politik, atau sekedar paham dan peduli politik nasional. Sebagian juga mungkin belum. Jika belum, saya ingin saudara renungkan hal berikut.

Ada kalanya dalam hidup kita harus memilih pilihan yang sulit. Apakah kita membela kebenaran, atau merestui ketidakbenaran?

Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi? Atau, kita menyerah kepada uang, kita menjual nilai-nilai kita, kita menjual diri kita, kita menjual kepribadian kita, kita menjual harga diri kita?

Pilihan-pilihan semacam ini sangat sulit.

Pada tahun ’45 pemimpin-pemimpin kita dihadapkan dengan pilihan semacam ini. Apakah menyatakan kemerdekaan, atau menunggu diberikan kemerdekaan oleh penjajah? Mereka yang menghendaki menyatakan kemerdekaan, agar kemerdekaan kita bukan hadiah dari penjajah, memang mempertaruhkan nyawanya dalam risiko.

Menjelang 10 November 1945, rakyat Surabaya dan pemimpin-pemimpin di Surabaya juga dihadapkan pada pilihan yang susah. Menyerah pada ultimatum Inggris untuk angkat tangan dan menyerahkan senjata paling lambat tanggal 9 November, atau menghadapi serbuan dan serangan negara adidaya pada saat itu.

Kita bayangkan, bagaimana harga diri bangsa kita kalau waktu itu pemimpin-pemimpin di Surabaya dan rakyat di Surabaya menyerah. Kalau Gubernur Suryo, Bung Tomo, dan semua pemimpin Jawa Timur dan Surabaya, tunduk kepada ultimatum asing, bagaimana harga diri kita sekarang?

Juga dalam krisis-krisis besar bangsa kita tahun ’65, apakah pemimpin membela Pancasila, atau menyerah kepada ideologi yang tidak sesuai dengan bangsa kita, yaitu komunisme?

Demikian juga pada tahun ’98. Pada era Reformasi, banyak pemimpin kita juga yang dihadapkan pada pilihan susah. Membela sistem yang kurang demokratis, atau berani membawa reformasi dan demokrasi?

Dalam perjalanan politik saya 20 tahun terakhir, saya membawa pesan yang kurang lebih sama dengan apa yang terkandung di dalam buku ini. Dalam perjalanan saya, banyak lawan saya yang selalu hendak mendiskreditkan saya. Saya digambarkan sebagai seorang yang haus kekuasaan, yang nafsu untuk berkuasa. Dan, saya digambarkan sebagai seorang yang suka menggunakan kekerasan, yang kejam, dan sebagainya.

Padahal, saya telah membuktikan setelah sekian puluh tahun, bahwa saya selalu mengutamakan jalan damai. Saya seorang mantan prajurit yang mengerti perang. Saya pernah melihat perang. Saya pernah melihat korban-korban perang. Komandan yang sangat saya hormati gugur di tangan saya karena ditembak musuh. Anak buah-anak buah saya yang terbaik gugur di sekitar saya, di medan perang.

Saya yang harus ke keluarga mereka, ke ibu-ibu mereka, ke istri mereka, ke orang tua mereka, untuk memberi tahu putranya gugur di bawah kepemimpinan saya. Karena itu, saya selalu ingin jalan damai. Fitnah-fitnah yang mereka lontarkan sungguh sangat keji. Saya dituduh ingin menutup semua gereja di Republik Indonesia, padahal keluarga saya sebagian Kristen. Bahkan di sekitar saya, pengawal-pengawal saya, ajudan-ajudan saya, sekretaris saya, sebagian orang Nasrani.

Saya seorang mantan prajurit TNI. Sumpah saya membela seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras. Saya telah mempertaruhkan nyawa saya, dan banyak anak buah saya dari berbagai suku dan agama telah gugur di bawah komando saya.

Bagaimana bisa saya melanggar sumpah saya, dan melupakan pengorbanan anak buah saya?

Saya juga telah difitnah, seolah bahwa saya adalah anti etnis Tionghoa. Padahal saya selalu membela semua kelompok minoritas. Fitnah-fitnah itu adalah bagian yang keji dari politik. Saya selalu minta kepada para sahabat dan pendukung saya untuk sabar dan tenang. Jangan menjadi marah. Kita harus semakin arif, semakin sabar. Dengan diam bukan kita menerima fitnah itu, tetapi kita perhitungkan dengan sebaik- baiknya.

Jangan kita balas kedengkian dengan kedengkian. Jangan kita balas kejahatan dengan kejahatan. Jangan kita balas fitnah dengan fitnah. Saya minta saudara-saudara terus, walaupun sabar, kita juga harus siap. Siap mental kita, siap tenaga kita, siap napas kita. Saya minta saudara-saudara yang membaca buku ini, dalam keheningan malam nanti, renungkanlah pendapatmu, renungkanlah sikapmu, renungkanlah jawabanmu.

Saya bertanya, apakah kita akan bersama-sama membela kebenaran, atau kita menyerah kepada ketidakbenaran, kepada kecurangan, kepada kezaliman?

Dan, dalam hari-hari yang akan datang, setelah saudara merenung, saya mengajak saudara untuk mengambil langkah- langkah untuk menghadapi hari-hari yang akan datang. Saya telah memilih berjuang di atas landasan konstitusional. Saya tidak mau menyerah kepada keadaan yang tidak benar dan tidak adil. Saya menilai yang dialami Indonesia sekarang ini sarat dengan campur tangan asing. Ada negara-negara tertentu yang ingin Indonesia lemah, yang ingin Indonesia hancur, yang ingin Indonesia miskin.

Saya punya bukti-bukti yang kuat tentang keterlibatan mereka. Tetapi kita tetap harus tenang. Kita harus sabar, dan kita harus percaya pada kekuatan kita sendiri.

BERITA TERKAIT
TERKINI