prabowosubianto.com

Prabowo Subianto

Jenderal George C. Marshall

Jenderal George C. Marshall | Macarthur_Genenral_Marshall_canonical-resize-1200×0-50
Foto: pbs.org

Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto] 

“Jenderal Marshall memimpin ekspansi  militer terbesar dalam sejarah AS. Selain memimpin pelatihan, ia juga memimpin operasi 8 juta tentara AS di luar negeri”

Sebagai orang Indonesia, saya sangat menghormati Jenderal Marshall. Bagaimanapun, adalah Menteri Luar Negeri Marshall yang mendesak Presiden Harry Truman untuk menuntut Belanda menghentikan agresi mereka di Indonesia setelah 1945.”

George Marshall lahir pada tahun 1880 dari keluarga sederhana di Pennsylvania. Karena kekurangan uang, ibunya menjual sebidang tanah keluarga yang ukurannya tidak besar untuk membayar uang sekolah Marshall di Institut Militer Virginia.

Lulus pada tahun 1901 sebagai Letnan Dua, Marshall ditugaskan ke unit infanteri yang beroperasi di Filipina. Filipina saat itu berada di bawah pendudukan AS. Setelah 18 bulan, ia kembali ke Amerika Serikat dan ikut pelatihan perwira di Fort Leavenworth dan Army Staff College, di mana ia lulus terbaik di kelasnya.

Marshall bertugas dengan tekun selama Perang Dunia Pertama, di mana ia bertugas sebagai staf operasi divisi infanteri. Dia kemudian menjabat sebagai ajudan Jenderal John Pershing, Kepala Staf Angkatan Darat, selama 5 tahun. Pada saat ia Letnan Kolonel, Marshall bertugas di Tiongkok selama tiga tahun. Setelah kembali ke Amerika Serikat, Marshall bertugas sebagai instruktur di Army War College dan Fort Benning.

Pada September 1939, Presiden Franklin Roosevelt memilih Jenderal Marshall sebagai Kepala Staf Angkatan Darat. Sebagai KASAD AS, Marshall menyerukan perlunya peningkatan kesiapan tentara, sebuah seruan yang terbukti penting pada saat serangan Jepang di Pearl Harbor pada 1941.

Setelah AS memasuki Perang Dunia Kedua, Marshall memimpin ekspansi militer terbesar dalam sejarah AS. Selain memimpin pelatihan, ia juga memimpin operasi 8 juta tentara AS di luar negeri. Dia juga adalah Jenderal yang memilih atau merekomendasikan sebagian besar Jenderal terbaik AS yang diberikan perintah-perintah kunci selama Perang Dunia Kedua.

Setelah mengundurkan diri sebagai KASAD AS pada tahun 1945, Marshall pergi ke Tiongkok untuk menengahi mengakhiri Perang Saudara Tiongkok. Meskipun dia tidak berhasil, dia menunjukkan bakat untuk negosiasi dan diplomasi. Akibatnya, setelah Perang Dunia Kedua, ia diangkat menjadi Menteri Luar Negeri AS.

Saat menjabat Menteri Luar Negeri AS lah ia mendapatkan penghargaan terbesar dalam karier pemerintahannya, karena ia membuat program bantuan ekonomi pasca-perang untuk Eropa yang kemudian dikenal sebagai Marshall Plan. Marshall juga berperan penting dalam mewujudkan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Pada tahun 1950, selama satu tahun ia bertugas sebagai Menteri Pertahanan AS. Marshall memimpin pembentukan kekuatan internasional yang dikirim untuk melindungi Korea Selatan dari Korea Utara.

Memperhatikan karier Marshall yang luar biasa, saya sangat mengaguminya sebagai seorang prajurit maupun negarawan. Dia menjadi tersohor karena advokasinya untuk perdamaian dan rekonstruksi. Oleh karena usahanya itu, dia dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada tahun 1953. Dia juga memiliki kemampuan untuk mendelegasikan kekuasaan dan mendapatkan loyalitas mutlak dari bawahannya.

Sebagai orang Indonesia, saya sangat menghormati Jenderal Marshall. Bagaimanapun, adalah Menteri Luar Negeri Marshall yang mendesak Presiden Harry Truman untuk menuntut Belanda menghentikan agresi mereka di Indonesia setelah 1945. Ketika Belanda mengabaikan tuntutan Truman, Marshall Plan untuk Belanda dihentikan sementara. Truman, atas saran Marshall, mengancam memotong semua bantuan ekonomi AS ke Belanda. Usaha ini berhasil. Pada tahun 1949 Belanda mengadakan Konferensi Meja Bundar dan mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat.

BERITA TERKAIT
TERKINI