prabowosubianto.com

Prabowo Subianto

Iskandar Zulkarnain (Aleksander Agung)

Iskandar Zulkarnain (Aleksander Agung) | 1
Foto : id.quora.com

Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto] 

“Kepemimpinan Iskandar Zulkarnain menjadi pelajaran bagi saya. Gaya kepemimpinan beliau adalah apa yang disebut para ahli sejarah sebagai gaya kepemimpinan yang heroik. Ciri-ciri gaya kepemimpinan heroik ialah selalu memimpin dari depan. Selalu memberi contoh. Dia ikut memimpin dengan naik kuda, ikut bertempur, dan selalu berada di garis paling depan. Dia juga sering memimpin serbuan dan serangan-serangan. Semua bahaya yang dialami anak buahnya juga dia alami. Dia senasib dan sependeritaan dengan anak buahnya.

Itu yang membuat Iskandar Zulkarnain sangat dicintai dan disegani oleh anak buahnya. Karena itu anak buahnya selalu mau mempertaruhkan nyawanya, asalkan dipimpin oleh Iskandar Zulkarnain. Selain juga tentunya, naluri dalam pemikiran strategis dan naluri taktis dalam pertempuran yang terkenal cemerlang.”

Setelah kematian ayahnya, Filipus, dia mewarisi kerajaan yang kuat dan pasukan yang berpengalaman. Dia berhasil mengukuhkan kekuasaan Makedonia di Yunani dan melancarkan ekspansi militer yang tak sempat diselesaikan oleh ayahnya.

Kecakapan militer Aleksander terbukti untuk pertama kali atas kemenangan dalam Perang Chaeronea pada 338 SM meskipun baru berusia 18 tahun. Tahun 334 SM, dia menginvasi daerah kekuasaan Persia melalui beberapa pertempuran seperti Pertempuran Issus dan Pertempuran Gaugamela. Pada 332 SM, Aleksander berhasil menguasai Siria dan tahun 331 SM berhasil menguasai Mesir sekaligus mendirikan kota pelabuhan terkenal, Aleksandria, di semenanjung Mesir. Aleksander ditasbihkan sebagai putra dari Dewa Zeus-Ammon di sana.

Keinginannya menguasai seluruh dunia membuatnya melanjutkan invasi. Kali ini ke India pada tahun 326 SM.

Meski hanya memerintah 13 tahun, dia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari imperium yang pernah ada sebelumnya. Luas wilayah yang diperintah Aleksander 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya. Mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia).

Gelar “Agung” di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang serta keberhasilannya menaklukkan wilayah yang sangat luas.

Aleksander Agung meninggal dunia di Babilonia pada 323 SM tanpa sempat melaksanakan rencana invasi ke Arabia.

BERITA TERKAIT
TERKINI