Search
Close this search box.

Contoh-contoh Pemimpin yang Tidak Benar. Contoh Pertama: Komandan Peleton Memimpin Dari Jauh.

Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto] 

“Ada beberapa kasus contoh, perwira-perwira dan komandan-komandan yang tidak perlu dicontoh. Menurut saya mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak benar sebagai pemimpin. Saya ceritakan cerita-cerita ini bukan untuk menjelekkan orang, tapi agar kita tidak melakukan hal-hal seperti ini."

Di buku ini saya telah banyak berkisah tentang pemimpin-pemimpin yang saya kagumi, pemimpin-pemimpin dari Indonesia dan juga dari luar negeri. Tokoh-tokoh itu adalah pribadi-pribadi yang patut kita pelajari.

Namun, ada juga beberapa kasus contoh, perwira-perwira dan komandan-komandan yang tidak perlu dicontoh. Menurut saya mereka adalah pribadi-pribadi yang tidak benar sebagai pemimpin.

Saya ingin menceritakan satu kisah. Suatu saat saya waktu itu menjabat sebagai Komandan Batalyon 328 sedang bertugas di Timor Timur yaitu pada tahun 1988-1989. Kalau tidak salah kejadian ini adalah di sekitar bulan Agustus/September 1989.

Pasukan kita sedang konsolidasi dan kita membuat satu base camp di pinggir Kota Venilale, waktu itu di sektor tengah. Kita berada di perbukitan di luar sebuah desa dan itulah menjadi base camp kita di mana setelah melakukan gerakan-gerakan militer kita kembali dan konsolidasi di situ.

Baca Juga :   Berjuang Sama Saya Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

Suatu saat setelah konsolidasi lengkap satu Batalyon, kita ingin membuat suatu pesta untuk rakyat di kampung itu. Kita undang kepala desa, kepala suku, dan tokoh-tokoh desa itu, dan rakyat desa itu, kita makan bersama, dan melakukan tari-tarian rakyat setempat yang dikenal dengan nama Tebe-tebe.

Baca Juga :   Pejuang Nasional Bung Tomo

Tentunya sebagai komandan, karena lapangan desa itu berada di tempat yang rendah, saya harus amankan ketinggian-ketinggian di sekitar desa itu. Salah satu bukit yang menonjol dan menguasai medan harus diamankan. Untuk itu, saya perintahkan satu peleton di bawah Letnan ‘A’. Saya perintahkan Letnan tersebut “Untuk Peleton kamu supaya naik ke bukit yang di atas, yang saya tunjuk. Amankan bukit itu, amankan kita, supaya kita tidak diserang oleh musuh pada saat kita lakukan pesta.”

Baca Juga :   Pejuang Nasional Bung Tomo

Selain Peleton itu, saya tempatkan juga Peleton lain mengitari tempat pesta rakyat. Tapi Peleton Letnan ‘A’ itulah di tempat yang paling kritis, karena berada di tempat yang paling tinggi.

Baca Juga :   The Many Facets of Prabowo Subianto

Sesudah pesta rakyat selesai, saya kembali ke posko saya melewati jalan setapak. Saya lewat satu tenda, saya pasang senter saya, jadi saya lihat, loh di dalam tenda tersebut ada Letnan 'A'. Saya tanya, “bukankah saya perintahkan Anda untuk naik ke bukit yang di belakang itu untuk mengamankan pesta rakyat ini?” kemudian dijawab “sudah Pak, saya sudah perintahkan Peleton saya dan Peleton saya sekarang sudah ada di atas bukit tersebut.”

Baca Juga :   Mehmed II

“Loh yang mimpin siapa?”

Baca Juga :   Crafting Strategy for Irregular Warfare, A Framework for Analysis and Action

“Yang mimpin Bintara Peleton saya, Pak.”

Saya anggap ini suatu contoh leadership yang sangat tidak benar. Peleton dia sekitar 25 orang dia perintahkan di atas bukit di bawah pimpinan Bintara Peleton dia. Padahal dia adalah komandan Peletonnya.

Baca Juga :   Cita-Cita Indonesia Emas 2045: Cita-cita Abadi Bernegara [Capaian Kita Sampai Hari Ini]

Komandan Peleton harus berada di tengah-tengah anak buah. Tidak bisa dia pimpin dari jarak 300 meter. Itu contoh yang sangat tidak benar. Saya anggap itu pelanggaran prinsip-prinsip/kaidah-kaidah kepemimpinan yang paling mendasar, tidak pantas bagi seorang lulusan Akademi Militer seperti itu.

Baca Juga :   Mehmed II

Kemudian saya bilang, “sini kasih senjatamu. Mulai sekarang, kamu bukan Komandan Peleton lagi. Bahkan lebih rendah dari prajurit biasa karena saya ambil senjatamu. Kamu di daerah operasi tanpa senjata berarti anggap saja kamu adalah Tenaga Bantuan Operasi (TBO).”

Baca Juga :   Fondasi Pembangunan #1: Ekonomi Untuk Rakyat Indonesia (Menghentikan Kekayaan Kita ke Luar Negeri)

Saya cabut senjatanya untuk beberapa minggu. Akhirnya dia tidak ke mana-mana, tetapi dia merasa takut, karena tidak punya senjata di daerah musuh. Akhirnya dia pergi ke mana-mana selalu mengikuti prajurit lain yang mempunyai senjata. Saya lakukan tindakan ini karena ini contoh daripada leadership yang sama sekali tidak benar, tidak boleh ada di kalangan TNI pemimpin semacam itu. Walaupun saya tahu, mungkin banyak yang seperti itu.

 

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga