Search
Close this search box.

Bijak Berlebaran – Bijak Memilih Informasi

Idul Fitri, momen penuh berkah yang dinanti-nanti, merupakan ajang berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Selain menyambung silaturahmi, Lebaran juga menjadi waktu yang tepat untuk bertukar kabar, baik tentang masa lalu, harapan di masa depan, hingga cerita di masa kini. Namun, di tengah perayaan tersebut, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama: misinformasi, disinformasi, dan malinformasi rentan terjadi saat kita secara masif bertukar informasi. 

Menurut Deputi Bidang Diseminasi dan Media Informasi Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Noudhy Valdryno, kemampuan untuk memilah dan mengidentifikasi informasi menjadi semakin relevan saat ini. Kita semua bisa ikut berkontribusi memerangi gangguan informasi untuk merawat persatuan dan solidaritas. 

“Momen Lebaran adalah waktu yang penuh dengan kegembiraan, tetapi di balik itu ada ancaman gangguan informasi yang mengintai. Jadi, kita harus lebih bijaksana dalam mengonsumsi informasi. Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto, semangat lebaran seyogianya menjadi momentum bagi kita untuk semakin memperkokoh persatuan bangsa dan memperkuat solidaritas sosial, bukan sebaliknya,” ujar Noudhy Valdryno. 

Baca Juga :   Program Makan Siang Siswa di Sekolah Diremehkan, Prabowo Subianto: Itu akan Buat Anak Indonesia Kuat dan Cerdas

Selain belajar gerakan tren “velocity” bersama sanak saudara, bijak berlebaran bisa kita lakukan dengan juga mengasah kemampuan kita memilah tiga sumber utama mispersepsi publik.

Misinformasi: Penularan Ketidaktahuan 

Misinformasi adalah penyebaran informasi yang salah akibat ketidaktahuan, tanpa intensi menyesatkan. Ini sering kali terjadi ketika seseorang menyebarkan informasi tanpa memverifikasi terlebih dahulu kebenarannya. 

Sebagai contoh, beredar kabar bahwa pemerintah akan mengembalikan dwifungsi TNI melalui RUU TNI yang disahkan di tahun 2025. Padahal, UU tersebut justru sangat membatasi peran TNI hanya pada lembaga yang terkait erat dengan kemampuan para prajurit TNI itu sendiri, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Hal ini sangat berbeda dengan UU Nomor 2 Tahun 1988 tentang ABRI, yang memberi keleluasaan lebih besar bagi TNI untuk terlibat dalam ruang pemerintahan dan politik. Ketidaktahuan makna Dwifungsi ABRI akhirnya menyebabkan mispersepsi informasi. 

Demikian pula, kabar yang menyatakan bahwa Danantara, yang kini menjadi bagian dari pengelolaan sumber daya alam Indonesia, akan dikelola dengan cara yang tidak profesional, tentu sangat keliru. Nyatanya, Danantara dirancang dengan matang, diawaki oleh para profesional di bidang manajemen dan investasi, untuk mengoptimalkan potensi ekonomi Indonesia dengan penuh kehati-hatian. 

Baca Juga :   Prabowo Subianto akan Lanjutkan Komitmen Indonesia terhadap Pengelolaan Air Dunia di Pemerintahan Mendatang

Disinformasi: Kesalahan yang Disengaja 

Berbeda dengan misinformasi, disinformasi merujuk pada penyebaran informasi salah yang dilakukan oleh seseorang yang tahu bahwa informasi tersebut salah. Penyebarannya memang sengaja dilakukan dengan niatan buruk. Jika Anda menemukan informasi seperti ini segera laporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informasi melalui [email protected].

Malinformasi: Data yang Disalahgunakan 

Terakhir, malinformasi adalah informasi yang benar namun disampaikan dalam konteks yang salah, atau waktu yang tidak tepat. Seringkali kita menemukan informasi seperti ini yang kerap disebut “cocoklogi”. Data yang tidak lengkap yang disajikan untuk melahirkan kesimpulan yang keliru. 

Sebagai contoh, tahun ini kita dengar kabar tentang penurunan jumlah pemudik, bahkan ada yang menggunakan kata “anjlok”. Padahal masa mudik lebaran belum selesai. Angka jumlah pemudik yang digunakan mungkin hanya berdasarkan taksiran sementara, bukan realisasi. 

Contoh lain adalah isu terkait dengan penurunan rata-rata saldo di rekening bank. Padahal saat ini semakin mudah membuka rekening baru untuk keperluan promo, jumlah rekening yang terdaftar jauh lebih banyak dibandingkan jumlah populasi. Sementara itu, investasi dalam bentuk emas yang semakin populer juga menyebabkan peningkatan tabungan di luar rekening bank. 

Baca Juga :   Gibran: Kreativitas Anak Muda Indonesia Tidak Kalah dengan Negara Lain

Malinformasi seperti ini bisa menyesatkan karena memunculkan sebagian data yang akhirnya berujung kesimpulan yang tidak tepat. 

Sumber Menentukan Kualitas Informasi 

Agar tidak mudah terjerumus dalam arus informasi yang keliru, penting bagi kita untuk menyeleksi sumber informasi. Apalagi saat ini platform digital menjadi lahan subur bagi misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. 

“Di era digital ini, kita sering terjebak dalam informasi yang menyesatkan, apalagi dengan adanya berbagai platform media sosial. Berbagai akun resmi pemerintah bisa menjadi verifikator bagi warga dengan data yang akurat dan tepercaya” tutupnya.

Noudhy juga berharap, momen lebaran membawa energi baru bagi media massa untuk ikut berperan di garda terdepan sebagai “penjaga gerbang” untuk mencerahkan masyarakat agar tidak terpapar misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. 

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga