Search
Close this search box.

TARIF AS

Oleh: Hamdan Hamedan

Amerika Serikat resmi mengenakan tarif tinggi terhadap puluhan negara—bahkan terhadap SEKUTU dekatnya sendiri.

Dampaknya langsung terasa setidaknya di AS sendiri: Pasar saham anjlok. Dow Jones turun hampir 4%, Nasdaq jatuh hampir 6%. 2 triliun USD hilang dari S&P 500. Saham Apple, Nike, dan produsen besar lainnya merosot dua digit. 

Baca Juga :   Ini Baru Terobosan! Makan Siang Gratis Untuk Anak Sekolah dan Peningkatan Gizi Untuk Ibu Hamil

Banyak ekonom AS sebetulnya sudah mewanti-wanti: kebijakan ini bisa memukul balik ekonomi AS—memicu inflasi, kenaikan harga, dan perlambatan ekonomi global.

Walakin, Presiden Trump sepertinya kekeuh dengan urusan tarif ini. 

Indonesia—yang selama ini menjalin hubungan baik—ikut terkena tarif 32%, mulai 9 April 2025.

Tentunya ini menjadi tantangan bagi ekspor kita, khususnya di sektor elektronik, tekstil, perikanan, furnitur, dan kelapa sawit.

Baca Juga :   Tantangan dan Harapan Sektor ESDM Era Pemerintahan Prabowo-Gibran

Namun, Pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan langsung bergerak cepat:

 ✔️ Delegasi tingkat tinggi dikirim ke Washington untuk negosiasi langsung

 ✔️ Stabilisasi Rupiah, SBN, dan likuiditas valas bersama Bank Indonesia

 ✔️ Deregulasi dan penghapusan hambatan ekspor (non-tariff barrier)

Baca Juga :   President Prabowo’s Big Tent: A Breakthrough in Inclusivity

 ✔️ Koordinasi dengan ASEAN demi respons kolektif kawasan

Saat AS MENUTUP PINTU, Indonesia harus pandai MEMBUKA JALAN. 

Pasar baru seperti BRICS, Afrika, dan Timur Tengah harus dibuka dan ditingkatkan. 

Kita tidak bisa mengubah arah angin, tapi kita bisa mengarahkan layar kapal.

Indonesia bisa. Yes, we can.

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga