Search
Close this search box.

Mengukur Dengan Tepat Bagian Kunci Komunikasi Efektif

Siapapun pasti akan kesulitan jika harus mengukur jumlah air di waduk Jatiluhur dengan sendok kecil, atau harus mengukur panjang sebutir beras dengan meteran dorong.

Kesulitan juga akan dihadapi siapapun yang diminta mencari dan membandingkan kemanisan duren saat bukan musim duren, atau mencari dan membandingkan daerah-daerah yang kebanjiran di tengah bulan kemarau.

Pemilihan metode, waktu dan pembanding yang tidak tepat dalam sebuah pengukuran pasti menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Ini penting untuk kita semua pahami agar bisa mengukur dan menilai kebijakan Pemerintah dengan tepat – dan identifikasi mereka-mereka yang memang niatnya mengambil kesimpulan yang tidak tepat.

Case study: UU TNI 2025

Contoh pengukuran & kesimpulan tidak tepat: Dibanding UU 34/2004 tentang TNI, KL yang dapat dijabat TNI aktif naik dari 10 ke 14 dalam UU TNI 2025. Ada penambahan 40% dari sebelumnya. Ini bukti Pemerintah dan DPR kembalikan dwifungsi TNI.

Baca Juga :   Warga Semarang Senang Terlibat di Dapur Makan Bergizi Gratis: Ini Membuka Lapangan Pekerjaan

Contoh pengukuran & kesimpulan tepat: Dibanding UU 2/1988 tentang Prajurit ABRI yang tidak membatasi peran TNI dan bahkan TNI bisa berpolitik di DPR dan menjabat Kepala Daerah (Pasal 6 tentang Dwifungsi), KL yang dapat dijabat TNI aktif dalam UU TNI 2025 sangat terbatas ke 14 KL yang sangat terkait dengan tugas dan kemampuan TNI seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Selain itu tidak ada pasal karet tentang dwifungsi TNI dalam UU TNI 2025. Ini bukti Pemerintah dan DPR konsekuen menjaga hasil reformasi, tidak kembalikan dwifungsi TNI.

Baca Juga :   Prof Mahfud: Program Makan Siang Prabowo Gibran Pakai Barang Impor

Case study: Makan Bergizi Gratis

Contoh pengukuran & kesimpulan tidak tepat: Per pertengahan Maret 2025, realisasi belanja MBG belum 1% dari anggaran. Baru 3 juta anak menerima MBG. Ini bukti Pemerintah gagal jalankan MBG.

Contoh pengukuran & kesimpulan tepat: BGN merencanakan roll out MBG dilakukan bertahap untuk menjaga mutu. Akhir Februari ditargetkan 2,2 juta penerima, akhir April ditargetkan 6 juta penerima, akhir Oktober ditargetkan 45 juta penerima, dan akhir Desember ditargetkan 82 juta penerima.

Jika yang menerima sudah 3 juta di pertengahan Maret, artinya sesuai rencana BGN. Ini bukti Pemerintah berhasil jalankan MBG.

Case study: Danantara

Contoh pengukuran & kesimpulan tidak tepat: Dari 1 Januari sampai 18 Maret 2025 terjadi net sell asing dari bursa Indonesia sebesar USD 1,6 milyar (sekitar Rp. 26 triliun). Harga saham bank-bank BUMN turun, padahal Danantara baru dibentuk. Ini bukti fund manager global tidak percaya Danantara.

Baca Juga :   Warga hingga Pejabat Kirim Karangan Bunga Dukungan untuk Prabowo Subianto Pasca Operasi di RSPPN Bintaro

Contoh pengukuran & kesimpulan tepat: Dari 1 Januari sampai 18 Maret 2025 terjadi net sell asing dari bursa India sebesar USD 15,9 milyar, net sell asing dari bursa Jepang sebesar USD 14,1 milyar, net sell asing dari bursa Korea Selatan sebesar USD 5 milyar, dan net sell asing dari bursa Indonesia sebesar USD 1,6 milyar.

Net sell asing terjadi di berbagai bursa, berpindah ke bursa Tiongkok dan emas, padahal India, Jepang, Korea Selatan tidak sedang membentuk SWF baru. Ini bukti realokasi aset oleh fund manager besar sedang terjadi secara global.

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga