Search
Close this search box.

Kolonel Anwar Sadat

Foto: grid.id

Oleh Prabowo Subianto [diambil dari Buku 2 Kepemimpinan Militer: Catatan dari Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto] 

“Sadat dikenal sebagai pemimpin Mesir yang menyusun kembali sistem multi-partai yang ditangguhkan oleh Nasser. Dia juga membuka ekonomi Mesir untuk investasi swasta. Dan di arena kebijakan luar negeri, ia membuktikan dirinya seorang pemimpin yang bijak dengan menegosiasikan perdamaian abadi dengan tetangganya.

Kebijaksanaan Sadat adalah kontroversinya. Tetapi ia menolak untuk goyah dalam mengejar jalan damai. Ini adalah contoh yang saya percaya layak ditiru, walau keteguhannya membuatnya dibunuh pada tahun 1981."

Satu dari tiga belas saudara kandung yang lahir dari keluarga miskin di pedesaan Mesir, Anwar Sadat berhasil keluar dari masa kecil yang sulit dan mendapatkan tempat di Akademi Militer Mesir. Lulus pada tahun 1938, ia bersahabat dengan Gamal Abdel Nasser dan bergabung dengan kelompok rahasia di militer Mesir yang mendukung pengusiran Inggris dan memberantas korupsi di kalangan kerajaan Mesir.

Baca Juga :   Jawaharlal Nehru

Seiring waktu, aktivisme Sadat membuatnya diperhatikan Inggris. Saat Perang Dunia Kedua meletus, Sadat mendekam di dipenjara karena sikap anti-kolonialnya.

Setelah perang, Sadat kembali ke sisi Nasser dan ikut menyerukan seruan Nasser untuk reformasi. Keduanya bekerja sama dalam pengambilan kekuasaan Mesir dari Raja Mesir pada tahun 1952. Karena latar belakangnya di Korps Signal, Sadat lah yang membuat pengumuman kudeta melalui radio publik.

Dalam pemerintahan Republik Mesir, Nasser mengisi kabinet dengan pembantu-pembantu militer terdekatnya. Pada awalnya, Sadat diangkat menjadi Menteri Negara, kemudian menjabat sebagai Wakil Presiden yang setia.

Pada tahun 1970, Nasser meninggal mendadak karena serangan jantung. Pendukung terdekat Nasser memilih Sadat sebagai penggantinya untuk sementara. Yang mengejutkan banyak orang, Sadat ternyata mampu melakukan konsolidasi dukungan dan membangun kekuatan politik yang tangguh. Salah satu gerakan politik pertamanya adalah membersihkan pemerintahan dari Nasserists, termasuk mereka yang telah mengarahkan Mesir menuju hubungan yang lebih dekat dengan Uni Soviet.

Baca Juga :   Mayor Elias Daan Mogot

Tiga tahun menjabat, popularitas Sadat meningkat pesat. Salah satu alasan dari peningkatan popularitasnya adalah karena dia dan rekan-rekan Suriahnya mengambil kesempatan dari kelengahan Israel dan memulai Perang Yom Kippur 1973. Secara khusus, pasukan Mesir menerobos pertahanan Israel yang katanya tidak dapat ditembus di Sinai dan masuk jauh ke semenanjung Arab menuju Yerusalem. Ketika Israel terguncang gerakan Sadat, dunia Arab memandang  Sadat dengan kagum.

Pada tahun-tahun berikutnya, Sadat berkali-kali membuktikan dirinya sebagai seorang pragmatis yang mahir di panggung politik dunia. Dia memutuskan hubungan dekat Mesir dengan Uni Soviet dan mendekati negara-negara Barat. Dia juga meningkatkan hubungan Mesir dengan Iran, dan menjadi teman dekat Shah Iran.

Pencapaian puncak Sadat terjadi pada November 1977, ketika ia menjadi pemimpin Arab pertama yang secara resmi mengunjungi Israel. Bersama dengan rekan-rekannya dari Israel, Sadat memulai upaya untuk mencapai perdamaian abadi Arab-Israel.

Baca Juga :   Tantangan Strategis Bangsa Indonesia 2024-2029

Usaha Sadat membuahkan hasil, dengan perjanjian Camp David yang ditandatangani pada tahun 1978, kemudian perjanjian damai bilateral pada tahun berikutnya. Atas upaya ini, Sadat menjadi peraih Nobel dari dunia Arab pertama.

Meskipun ia tidak memiliki bakat berpidato seperti Nasser, Sadat mengikuti jalannya sendiri untuk memberikan kontribusi yang abadi untuk Mesir. Sadat dikenal sebagai pemimpin Mesir yang menyusun kembali sistem multi-partai yang ditangguhkan oleh Nasser. Dia juga membuka ekonomi Mesir untuk investasi swasta. Dan di arena kebijakan luar negeri, ia membuktikan dirinya seorang  pemimpin yang bijak dengan menegosiasikan perdamaian abadi dengan tetangganya.

Kebijaksanaan Sadat adalah kontroversinya. Tetapi ia menolak untuk goyah dalam mengejar jalan damai. Ini adalah contoh yang saya percaya layak ditiru, walau keteguhannya membuatnya dibunuh pada tahun 1981.

 

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga