Search
Close this search box.

Bijak Berlebaran: Mampu Memilah Misinformasi, Disinformasi dan Malinformasi

Idul Fitri adalah ajang berkumpul dengan sanak keluarga. Ajang bertukar kabar soal kehidupan, soal masa lalu dan masa depan. Bertukar harapan, juga bertukar kecemasan.

Akhir-akhir ini begitu banyak kabar baik dari kerja cerdas Presiden Prabowo yang tidak sampai ke publik. Bahkan, sebagian publik memiliki mispersepsi atas kerja Presiden karena menerima misinformasi, disinformasi dan/atau malinformasi.

Berlebaran dengan bijak di “jaman trend velocity” membutuhkan kita menguasai skill baru: Kemampuan memilah tiga sumber utama mispersepsi publik.

Mengenal Misinformasi

Misinformasi adalah penyebaran informasi salah oleh orang yang tidak tahu yang disebarkan itu salah. Ini sering terjadi karena ketidaktahuan, misalkan:

“Pemerintah kembalikan dwifungsi TNI dengan UU TNI 2025”. Padahal UU TNI 2025 sangat membatasi peran TNI aktif hanya di 14 Lembaga yang berkaitan langsung dengan kemampuan TNI seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Bisa dibandingkan dengan UU ABRI 1988 yang tidak membatasi peran TNI aktif di Pemerintahan, bahkan bisa punya fraksi di DPR.

“Danantara membahayakan Indonesia karena akan dikelola serampangan”. Padahal tata kelola Danantara dirancang sangat baik, dan diawaki oleh profesional di bidang manajemen dan investasi.

Mengenal Disinformasi

Baca Juga :   Q & A tentang Danantara

Misinformasi adalah penyebaran informasi salah oleh orang yang sadar yang disebarkan itu salah. Jika menemukan orang apalagi keluarga seperti ini, bisa diajak istighfar.

Baca Juga :   Prabowo Pemimpin Pemersatu Bangsa

Mengenal Malinformasi

Misinformasi adalah penyebaran informasi benar namun disampaikan tidak pada tempatnya. Seringkali kita mengenal malinformasi sebagai “cocoklogi” atau mengambil kesimpulan dari data yang keliru. Data-data terkait tidak disampaikan, agar kesimpulan sesat dipertahankan. Misalkan:

“Jumlah pemudik tahun ini anjok”. Padahal masa mudik Lebaran belum selesai. Angka jumlah pemudik yang digunakan kemungkinan adalah hasil taksiran bukan realisasi.

“Rata-rata uang di rekening anjlok”. Padahal sekarang semakin mudah membuka rekening bank, masyarakat buka rekening baru untuk kejar promo, jumlah rekening meningkat lebih cepat dari jumlah populasi, dan emas yang harganya terus naik jadi pilihan menyimpan kekayaan selain uang.

 

Baca Juga :   8 Breakthroughs of the Educator in Chief

Mengenal Sumber Informasi Terpercaya

Agar tidak mudah terjerumus misinformasi, disinformasi dan/atau malinformasi, ikutilah akun-akun resmi Pemerintah di media sosial. 

Jangan mudah percaya informasi yang beredar – termasuk dari media konvensional, apalagi jika dengan sengaja hanya menghadirkan narasumber yang kontra Pemerintah.

Prabowo-Subianto-icon-bulet

Artikel Terkait

Baca Juga