Satu dua hari terakhir ini beredar narasi “IHSG dan Rupiah akan ambruk saat bursa dibuka hari Senin.” Mereka yang mendengungkan narasi ini menyampaikan turunnya bursa dan mata uang Vietnam karena kebijakan tarif Presiden Trump sebagai indikasi.
Yang harus kita pahami: Walaupun Vietnam dan Indonesia sama-sama negara Asia Tenggara, ekonomi Vietnam dan Indonesia sangat berbeda.
Berikut adalah angka-angka kunci yang perlu kita catat:
PDB kegiatan ekspor:
– Vietnam: 87%
– Malaysia: 68%
– Thailand: 65%
– Singapura: 174% *
– Indonesia: 22%
* Angka Singapura lebih dari 100% karena banyak kegiatan re-ekspor dari pelabuhan Singapura.
PDB kegiatan ekspor ke Amerika:
– Vietnam: 33%
– Malaysia: 13%
– Thailand: 13%
– Singapura: 8%
– Indonesia: 2%
Nilai ekspor ke Amerika:
– Vietnam: USD 142 milyar
– Malaysia: USD 54 milyar
– Thailand: USD 66 milyar
– Singapura: USD 44 milyar
– Indonesia: USD 30 milyar
Tarif Masuk ke Amerika Serikat per 9 April:
– Vietnam: 46%
– Malaysia: 24%
– Thailand: 36%
– Singapura: 10%
– Indonesia: 32%
PDB per kapita:
– Vietnam: USD 4.282
– Malaysia: USD 11.379
– Thailand: USD 7.182
– Singapura: USD 84.734
– Indonesia: USD 4.876
Dari angka-angka di atas kita bisa simpulkan:
- Ekonomi Vietnam sangat bergantung pada kegiatan ekspor (87% PDB), dibandingkan ekonomi Indonesia (22% PDB).
- Untuk Indonesia (ekspor ke AS: 2% PDB Indonesia, USD 30 milyar), dampak kebijakan tarif Presiden Trump jauh lebih kecil daripada untuk Vietnam (ekspor ke AS: 33% PDB Vietnam, USD 142 milyar).
- Presiden Trump mengenakan tarif lebih tinggi untuk Vietnam (46%) dan Thailand (32%) dibandingkan tarif ke Indonesia (32%) dan Malaysia (24%).
- Mengingat PDB per kapita Indonesia (USD 4.876) kompetitif dengan Vietnam (USD 4.282) dan lebih rendah dari Malaysia (USD 11.379), kebijakan tarif Presiden Trump Indonesia berpeluang mendapatkan relokasi pabrik dari Vietnam ke Indonesia.